![]() |
| Selamat hari ibu! |
Tahun 2026 ini, peringatan Hari Ibu punya dua momen penting yang sering bikin orang bingung: Hari Ibu internasional yang jatuh pada Minggu, 10 Mei 2026, dan Hari Ibu versi Indonesia yang setiap tahun dirayakan pada 22 Desember. Secara global, banyak negara seperti Amerika Serikat, Kanada, Brasil, India, dan China memang menetapkan Hari Ibu pada second Sunday of May, yang tahun ini bertepatan dengan 10 Mei. Di Indonesia, tanggal ini sering ikut dirayakan warganet sebagai “Mother’s Day” dengan kirim pesan, unggah foto, atau promo brand, meski secara resmi pemerintah baru mengakui 22 Desember sebagai Hari Ibu Nasional.
Secara resmi, Hari Ibu di Indonesia diperingati pada 22 Desember dan sudah ditetapkan sebagai hari nasional non‑libur. Penetapan ini berakar pada sejarah panjang gerakan perempuan Indonesia sejak awal abad ke‑20. Pada 22–25 Desember 1928, berbagai organisasi perempuan dari berbagai daerah berkumpul di Yogyakarta dalam Kongres Perempuan Indonesia I, membahas isu hak perempuan dalam pendidikan, pernikahan, hingga peran mereka dalam perjuangan kemerdekaan. Tanggal 22 Desember kemudian dipilih sebagai simbol hari pembukaan kongres bersejarah tersebut dan akhirnya dikukuhkan sebagai Hari Ibu melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 316 Tahun 1959.
Makna Hari Ibu di Indonesia sebenarnya cukup berbeda dengan Mother’s Day ala Barat. Di banyak negara, Hari Ibu lebih identik dengan ucapan kasih sayang kepada ibu kandung, hadiah, makan bersama, atau momen keluarga yang hangat. Sementara di Indonesia, Hari Ibu 22 Desember lahir dari semangat gerakan perempuan yang memperjuangkan kesetaraan dan perbaikan kualitas bangsa, bukan sekadar perayaan peran domestik. Karena itu, Hari Ibu di sini juga sering dimaknai sebagai penghargaan bukan hanya kepada ibu rumah tangga, tetapi kepada semua perempuan yang berperan di masyarakat: pekerja, aktivis, guru, tenaga kesehatan, dan lain‑lain.
Meskipun demikian, perkembangan media sosial membuat kedua momen—10 Mei dan 22 Desember—sama‑sama ramai dirayakan di Indonesia. Di bulan Mei, kampanye digital bertema “Mother’s Day” banyak diwarnai promo brand global, template ucapan bahasa Inggris, dan konten keluarga ala budaya internasional. Menjelang 22 Desember, narasi biasanya bergeser ke sejarah Kongres Perempuan Indonesia, kutipan tokoh seperti RA Kartini, Dewi Sartika, dan Rasuna Said, serta ajakan mengapresiasi perempuan pejuang di sekitar kita, dari ibu rumah tangga sampai buruh migran.
Bagi masyarakat, Hari Ibu 2026 bisa jadi momen refleksi ganda: di bulan Mei, kita diajak mengingat jasa ibu dalam kehidupan pribadi masing‑masing; sementara pada 22 Desember, kita diingatkan bahwa ruang gerak dan hak yang dinikmati perempuan hari ini tidak datang begitu saja, tetapi hasil perjuangan panjang generasi sebelumnya. Dengan memahami dua konteks ini, perayaan Hari Ibu tidak berhenti pada bunga dan unggahan di media sosial, tetapi juga mendorong kesadaran untuk terus mendukung akses pendidikan, kesehatan, dan kesempatan kerja yang lebih adil bagi perempuan Indonesia.

0 Komentar