Mutasi Besar Polri Mei 2026: 108 Pati dan Pamen Dirotasi, Sembilan Kapolda Berganti

Sumber : google
Polri melakukan mutasi besar Mei 2026

Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) kembali melakukan mutasi besar‑besaran di jajaran perwira tinggi (pati) dan perwira menengah (pamen) pada Mei 2026. Total ada 108 personel yang mengalami pergeseran jabatan, mulai dari pejabat utama Mabes Polri hingga kepala kepolisian daerah (Kapolda). Kebijakan ini tertuang dalam Surat Telegram Kapolri Nomor ST/960/V/KEP./2026 tertanggal 7 Mei 2026, yang diteken Asisten Sumber Daya Manusia (As SDM) Kapolri atas nama Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo.

Dari 108 personel yang dimutasi, mayoritas mengalami rotasi dalam bentuk promosi maupun pergeseran jabatan setara. Laporan media menyebut sekitar 91 perwira masuk kategori promosi dan “flat” jabatan, sedangkan sisanya merupakan personel yang kembali dari pendidikan atau memasuki masa pensiun. Mutasi ini juga mencatat promosi 16 perwira ke pangkat Inspektur Jenderal Polisi (Irjen Pol), lebih dari 40 perwira naik menjadi Brigadir Jenderal Polisi (Brigjen Pol), dan 16 lainnya dipromosikan ke Komisaris Besar Polisi (Kombes Pol) pada berbagai level jabatan. Pergeseran di pucuk pimpinan dan level menengah ini sekaligus menjadi bagian dari pembinaan karier dan penyegaran organisasi yang rutin dilakukan Polri setiap tahun.

Salah satu sorotan utama mutasi Mei 2026 adalah pergantian sembilan Kapolda di berbagai wilayah Indonesia. Langkah ini melanjutkan dinamika rotasi sebelumnya pada Januari 2026, ketika dua Surat Telegram Kapolri menata posisi 85 pati dan pamen serta mengganti tiga Kapolda di Sumatera Selatan, Papua Barat, dan Papua Tengah. Dengan mutasi terbaru, peta kepemimpinan Polda di tingkat wilayah kembali mengalami penyesuaian, baik untuk mengisi kekosongan karena promosi ke Mabes Polri maupun untuk memperkuat penanganan keamanan di daerah yang dianggap strategis.

Polri menegaskan bahwa mutasi dan rotasi seperti ini adalah hal wajar dalam organisasi besar yang harus terus menyesuaikan diri dengan tantangan keamanan. Dalam pernyataan resminya, Divisi Humas Polri menyebut mutasi bertujuan memperkuat pelaksanaan tugas kepolisian di bidang perlindungan, pengayoman, dan pelayanan masyarakat, sekaligus memastikan regenerasi kepemimpinan berjalan sehat. Perwira yang berprestasi mendapat kesempatan promosi ke jabatan strategis, sementara yang memasuki masa purna tugas digantikan oleh generasi berikutnya agar tidak terjadi kekosongan komando di lapangan.

Mutasi awal tahun dan gelombang lanjutan di Mei 2026 juga menunjukkan bagaimana Kapolri menjaga fleksibilitas struktur Polri di tengah dinamika isu nasional. Sejumlah posisi sensitif seperti reserse, siber, dan intelijen menjadi bagian dari rotasi, menggambarkan prioritas Polri dalam merespons ancaman kejahatan siber, tindak pidana korupsi, terorisme, hingga gangguan keamanan di daerah konflik. Bagi masyarakat, perubahan nama Kapolda dan pejabat Polri mungkin terlihat sekadar pergantian jabatan, tetapi di balik itu ada harapan bahwa kinerja penegakan hukum dan kualitas pelayanan akan semakin baik di wilayah masing‑masing.

Posting Komentar

0 Komentar